Jumat, 07 November 2014

PROSES INDUSTRI KIMIA
HIDROGENASI

KELOMPOK 5




OLEH:
GUSTI INDAH HAYATI                H1D112015
WAHYUDDIN                                  H1D112042
FAUZAH FYANIDAH                    H1D112201
ISNAINI RITAMI                            H1D112204




PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2014
KATA PENGANTAR

          Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini yang berjudul Hidrogenasi. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menambah kemampuan dan pengetahuan mahasiswa dalam hal pemahaman mengenai hidrogenasi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah ikut membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Makalah ini tidak luput dari kesalahan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi kita semua.





Banjarbaru,  Oktober 2014


                                                                                          Penyusun              











BAB 1
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Hidrogenasi merupakan reaksi hydrogen dengan senyawa organik, Reaksi ini terjadi dengan penambahan hydrogen secara langsung pada ikatan rangkap dari molekul yang tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh. Proses hidrogenasi merupakan salah satu proses yang penting dan
banyak  digunakan dalam pembuatan bermacam-macam senyawa organik. Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hydrogen kesebuah molekul. Reaksi dilakukan pada suhu dan tekanan yang berbeda  tergantung pada substrat  dan  aktivitas katalis.
Proses hidrogenasi merupakan salah satu proses yang penting dan banyak digunakan dalam pembuatan bermacam-macan senyawa organik. Industri yang menggunakan proses hidrogenasi antara lain adalah industri sorbitol methanol, margarine, ammonia dan lain-lainnya Kebanyakan hidrogenasi menggunakan gas hidrogen (H2), namun ada pula beberapa yang menggunakan sumber hidrogen alternatif, proses ini disebut hidrogenasi transfer.
     Dunia memiliki cadangan minyak yang dikenal cukup untuk hanya 41 tahun, tapi memiliki cadangan batubara hingga 155 tahun. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif untuk menggantikan energi minyak bumi. Saat ini telah dikembangkan teknologi pencairan batubara sebagai bahan bakar yang hampir setara dengan output minyak bumi. Pengembangan teknologi untuk menghasilkan energi baru juga berhasil mengembangkan suatu teknologi pencairan batubara bituminous dengan menggunakan tiga proses, yaitu solvolysis system, solvent extraction system, dan direct hydrogenation to liquefy bituminous coal. Ketiga proses tersebut terintegrasi dalam proses NEDOL (NEDO Liquefaction), suatu proses pencairan batubara yang dikembangkan oleh NEDO (lembaga kajian teknologi Jepang), dengan tujuan untuk mendapatkan hasil pencairan yang lebih tinggi.

    BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Pengertian Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang menghasilkan adisi hidrogen (H2). Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hidrogen ke sebuah molekul. Hidrogenasi merupakan reaksi hidrogen dengan senyawa organik. Reaksi ini terjadi dengan penambahan hidrogen secara langsung pada ikatan rangkap dari molekul yang tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh. Penggunaan katalis diperlukan agar reaksi yang berjalan efisien dan dapat digunakan, hidrogenasi non-katalitik hanya berjalan dengan kondisi temperatur yang sangat tinggi. Hidrogen beradisi ke ikatan rankap dua dan tiga hidrokarbon. Oleh karena pentingnya hidrogen, banyak reaksi-reaksi terkait yang telah dikembangkan untuk kegunaannya. Kebanyakan hidrogenasi menggunakan gas hidrogen (H2), namun ada pula beberapa yang menggunakan sumber hidrogen alternatif, proses ini disebut hidrogenasi transfer. Reaksi balik atau pelepasan hidrogen dari sebuah molekul disebut dehidrogenasi. Reaksi di mana ikatan diputuskan ketika hidrogen diadisi dikenal sebagai hidrogenolisis. Hidrogenasi berbeda dengan protonasi atau adisi hidrida, pada hidrogenasi, produk yang dihasilkan mempunyai muatan yang sama dengan reaktan.Substrat dari hidrogenasi tercantum dalam table berikut :
Tabel 1. Substrat Hidrogenasi
Alkena, R2C = CR2
Alkana, 2R CHCHR’
Alkuna, RCCR
Alkena, cis-RHC = CHR’
Aldehida, RCHO
Alcohol utama, RCH2OH
Keton, R2CO
Sekunder alcohol, R2CHOH
Ester, RCO2R’
Dua alcohol, RCH2OH, R’OH
Imina, RR’CNR”
Amina, RR’CHNHR”
Amida. RC (O) NR2
Amina, RCH2NR2
Nitril, RCN
Imina, RHCNH
Nitro, RNO2
Amina, RNH2

2.1.1        Pembuatan Hidrogen
Hidrogen yang dipergunakan pada proses hidrogenasi dibuat dengan proses elektrolisa dan proses steam iron. Proses elektrolisa yang dilakukan sangat sederhana, yaitu dengan larutan natrium hidroksida encer. Cara ini dapat menghasilkan hidrogen yang murni. Cara steam iron adalah proses pembuatan hidrogen yang mengikutsertakan proses reduksi dan oksidasi dari besi panas dalam dapur api yang dipanaskan pada suhu 1500°F-1700°F (815,5°C-926,5°C). Uap yang dipergunakan dialirkan secara berlebihan melalui besi panas. Oksigen pada uap akan bercampur dengan besi dan akan membebaskan hidrogen. Pada tahap akhir dari siklus uap, gas biru yang terbentuk dari uap akan menghembus melalui alat pemanas dan terus menembus melalui besi panas untuk mereduksi logam besi yang telah teroksidasi. Kelebihan dari reduksi gas dialirkan melalui besi yang telah teroksidasi. Kelebihan dari reduksi gas dialirkan melalui besi yang panas dan dibakar dalam checkerwork. Pengurangan gas dilakukan dengan jalan mengalirkan gas tersebut melalui bagian atas dapur api, sedangkan uap untuk membuat hidrogen dimasukkan melalui bagian bawah dapur api.
Hidrogen yang dihasilkan pada proses steam iron kurang murni untuk dipakai pada proses hidrogenasi minyak atau lemak makan, karena mengandung komponen-kompenen sulfur, karbon monoksida. Pemisahan karbon monoksida dapat dilakukan dengan mereaksikan hidrogen dengan uap pada suhu tinggi. Sedangkan hidrogen sulfida dapat dipisahkan dengan jalan melewatkan gas melalui ketel pemurnian yang diisi dengan besi sulfida (FeS).

2.1.2        Katalisator dalam Proses Hidrogenasi
Umumnya, tidak ada reaksi antara H2 dengan senyawa organik  yang terjadi di bawah 480°C terjadi antara H2 tanpa adanya katalis logam. Katalisator untuk proses hidrogenasi adalah platina, palladium dan nikel, dimana platina dan palladium  membentuk katalis yang sangat aktif, yang dapat mengkatalis pada suhu dan tekanan rendah. Tetapi berdasarkan pertimbangan ekonomis, hanya nikel yang umum digunakan sebagai katalisator hidrogenasi walaupun nikel dapat mengkatalis pada suhu yang lebih tinggi dari platina dan palladium.
Katalis hidrogenasi digolongkan menjadi dua, yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen larut dalam pelarut yang berisi substrat tak jenuh. Katalis heterogen adalah berbentuk padat yang tersuspensi di pelarut dengan substrat atau dengan gas substrat. Nikel mungkin juga mengandung sejumlah kecil Al dan Cu yang berfungsi sebagai promoter dalam proses hidrogenasi minyak.

2.1.3        Macam-macam Hidrogenasi
a.       Hidrogenasi transfer
Proses hidrogenasiumumnyamemanfaatkan gas hidrogen, namunadajuga yang menggunakansumber lain yang memiliki atom hidrogen di dalamnya. Namuntujuannyasama, yaitu :menambahkan atom hidrogendalamsuatusenyawa.
b.   Hidrogenasi Minyak
Proses hidrogenasi minyak membuat mengerasnya tanaman dan ikan yang diturunkan minyak, yang memungkinkan mereka  untuk menjadi pengganti efektif untuk lemak hewani.
c.   Hidrogenasi Etena
       Etena bereaksi dengan hydrogen pada suhu sekitar 150°C dengan    adanya sebuah katalis  nikel (Ni) yang halus. Reaksi ini menghasilkan etana. Reaksi ini tidak begitu berarti, sebab etena merupakan senyawa yang jauh lebih bermanfaat dibanding etena yang dihasilkan.


2.2  Pengertian Batubara.
Batubara adalah kekayaan alam yang dikategorikan sebagai energy fossil terbentuk dari proses metamorfosa yang sangat lama. Struktur kimia batubara samasekali bukan rangkaian kovalen karbon sederhana melainkan merupakan polikondensat rumit dari gugus aromatik dengan fungsi heterosiklik. Jumlah polikondensat yang banyak ini saling berikatan sering disebut dengan “bridge-structure”. Secara optis batubara sering merupakan bongkahan berporus tinggi dengan kadar air yang sangat bervariasi.
            Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa batubara merupakan sumber bahan bakar selain minyak bumi dan gas alam yang tak dapat terbarukan (non renewable resources). Namun, berbeda dengan minyak bumi dan gas alam, batubara tersebar merata di seluruh dunia dalam cadangan yang cukup besar. Sehingga batubara dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar fosil utama oleh beberapa negara yang miskin sumber daya minyak/gas tetapi memiliki cadangan batubara yang melimpah seperti China, Amerika Serikat dan Jepang.
            Permasalahan utama dalam penggunaan batubara adalah bahwa batubara merupakan bahan bakar padat, dan membutuhkan penyalaan awal agar bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi langsung. Selain itu, batubara juga memiliki masalah lain seperti membutuhkan tempat penyimpanan (stockpile) khusus setelah ditambang karena batubara memiliki sifat reaktif jika dibiarkan di tempat terbuka dalam waktu yang lama, dan akan segera terbakar dengan sendirinya (dikarenakan adanya volatile matters), belum lagi permasalahan transportasi yang membutuhkan penanganan khusus.
           
2.3              Manfaat Batubara
Pemanfaatan batubara dapat dimanfaatkan sebagai :
a)            Sumber energi langsung, yaitu dengan cara langsung membakarnya dan mengambil energi panasnya (seperti di PLTU, dan Industri semen)
b)            Sumber energi tidak langsung, yaitu dengan cara mengubah batubara ke dalam bentuk/fasa lain seperti:
Ø  briket batubara (proses karbonisasi/pirolisis)
Ø  batubara cair (proses likuifaksi)
Ø  gasifikasi batubara (menghasilkan Synthesis Natural Gas, SNG)
c)            Non energi:
Ø  Digunakan sebagai karbon aktif pada industri kimia
Ø  Kokas metalurgi pada industri pengolahan baja



2.4       Macam- Macam Proses Konversi Pengolahan Batubara
Proses konversi pengolahan batubara hingga akhirnya dapat digunakan. Batubara dapat digunakan sebagai bahan baku industri maupun sebagai bahan bakar melalui beberapa proses konversi yakni :
1.            Gasifikasi.
Gasifikasimerupakan proses konversi Batubara menjadi gas yang mudah dibakar. Jika udara digunakan sebagai pembakar, maka gas nitrogen (N2) akan memunyai efek  mengencerkan sehingga gas yang dihasilkan berkalori rendah. Untuk menghasilkan gas dengan kalori menengah maka sebagai pembakar digunkan gas oksigen (O2) murni. Untuk keperluaan industri ada kecenderungan menggunakan medium oksigen dan uap air untuk menghasilkan gas dengan kalori menengah. Produk-produk yang dihasilkan dari proses Gasifikasi dapat berupa SNG (Subtitude Natural Gas), Gas Sintesa (CO + H2), Gas pereduksi dan Gas berkalori rendah. Secara sederhana, gasifikasi adalah proses konversi materi organik (batubara, biomass atau natural gas) biasanya padat menjadi CO dan H2 (synthesis gases) dengan bantuan uap air dan oksigen pada tekanan atmosphere atau tinggi. Rumus sederhananya:
Coal + H2O + O2  → H2 + CO
2.            Sintesis Fisher-Tropsch.
sintesis ini merupakan konversi batubara yang didahului dengan proses Gasifikasi dengan menggunakan medium oksigen dan uap air. Gas yang dihasilkan terutama berupa gas CO dan H2, kemudian dimurnikan dan dilewatkan katalisator media sehingga diperoleh produk cair berupa hidrokarbon bermolekul tinggi. Fisher Tropsch adalah sintesis CO/H2 menjadi produk hidrokarbon atau disebut senyawa hidrokarbon sintetik/ sintetik oil. Sintetik oil banyak digunakan sebagai bahan bakar mesin industri/transportasi atau kebutuhan produk pelumas (lubricating oil).
(2n+1)H2 + nCO → CnH(2n+2) + nH2O
3.         Pirolisa (Karbonasi).
 Pada proses pirolisa atau karbonasi, batubara dipanaskan dalam keadaan tanpa udara sampai terjadi dekomposisi. Proses Dekomposisi adalah proses penguraian batubara dengan menggunakan panas tanpa udara, hasilnya disebut dengan kokas (Briket) dan menghasilkan cairan serta gas yang dapat dijual sebagai bahan bakar atau media bahan kimia. Adanya proses dekomposisi tersebut kandungan karbonnya akan meningkat dan sebaliknya kandungan gas terbangnya akan berkurang. Pada temperatur tinggi, hasilnya berupa residu padat (Kokas) dan mengandung gas, sedangkan pada temperatur rendah, hasilnya berwujud cairan yang banyak mengandung unsur Hidrogen (Tar). Tar dapat diapaki secara langsung dan dapat diubah menjadi minyak mentah sintetik melalui proses HydroTreatment.
4.                  Hidrogenasi.
Hidrogenasi adalah proses reaksi batubara dengan gas hydrogen bertekanan tinggi. Reaksi ini diatur sedemikian rupa (kondisi reaksi, katalisator dan kriteria bahan baku) agar dihasilkan senyawa hidrokarbon sesuai yang diinginkan, dengan spesifikasi mendekati minyak mentah. Sejalan perkembangannya, hidrogenasi batubara menjadi proses alternatif untuk mengolah batubara menjadi bahan bakar cair pengganti produk minyak bumi, proses ini dikenal dengan nama Bergius proses, disebut juga proses pencairan batubara (coal liquefaction).
5.                  Ekstraksi (Solvent Extraction).
Merupakan metode konversi batubara yang melarutkan sebagian atau seluruhnya batubara sehigga kemurnian batubara menjadi tinggi. pelarut yang digunakan dapat berupa hidrogen atau bahan organik yang berasal dari batubara tersebut. Jika tidak digunakan katalisator maka hasilnya berupa bahan bakar padat atau bahan bakar cair berat. Jika digunakan katalisator, maka hasilnya berupa Liquid Fuel Oil, Syntetic Crude Oil atau Minyak Nafta.

2.4.1        Proses Pengolahan Batubara Cair
Likuifaksi Batubara adalah suatu teknologi proses yang mengubah batubara dan menghasilkan bahan bakar cair sintetis. Batubara yang berupa padatan diubah menjadi bentuk cair dengan cara mereaksikannya dengan hidrogen pada temperatur dan tekanan tinggi.
Proses likuifaksi batubara secara umum diklasifikasikan menjadi Indirect Liquefaction Processdan dan Direct Liquefaction Process.
2.8.1.      Indirect Liquefaction Process/ Indirect Coal Liquefaction (ICL)
Prinsipnya secara sederhana yaitu mengubah batubara ke dalam bentuk gas terlebih dahulu untuk kemudian membentuk Syngas (campuran gas CO dan H2). Syngas kemudian dikondensasikan oleh katalis (proses Fischer-Tropsch) untuk menghasilkan produk ultra bersih yang memiliki kualitas tinggi.
Gambar 1. Dua konfigurasi proses dasar untuk produksi bahan bakar cair dengan Indirect Liquefaction Process
2.8.2.      Direct Liquefaction Process/ direct coal liquefaction (DCL)
Proses ini dilakukan dengan cara menghaluskan ukuran butir batubara, kemudian Slurry dibuat dengan cara mencampur batubara ini dengan pelarut. Slurry dimasukkan ke dalam reaktor bertekanan tinggi bersama-sama dengan hidrogen dengan menggunakan pompa. Slurry kemudian diberi tekanan 100-300 atm di dalam sebuah reaktor kemudian dipanaskan hingga suhu mencapai 400-480°C.
Secara kimiawi proses akan mengubah bentuk hidrokarbon batubara dari kompleks menjadi rantai panjang seperti pada minyak. Atau dengan kata lain, batubara terkonversi menjadi liquid melalui pemutusan ikatan C-C dan C-heteroatom secara termolitik atau hidrolitik, sehingga melepaskan molekul-molekul CO2, H2S, NH3, dan H2O. Untuk itu rantai atau cincin aromatik hidrokarbonnya harus dipotong dengan cara dekomposisi panas pada temperatur tinggi (thermal decomposition). Setelah dipotong, masing-masing potongan pada rantai hidrokarbon tadi akan menjadi bebas dan sangat aktif (free-radical). Supaya radikal bebas itu tidak bergabung dengan radikal bebas lainnya (terjadi reaksi repolimerisasi) membentuk material dengan berat molekul tinggi dan insoluble, perlu adanya pengikat atau stabilisator, biasanya berupa gas hidrogen. Hidrogen bisa didapat melalui tiga cara yaitu: transfer hidrogen dari pelarut, reaksi dengan fresh hidrogen, rearrangement terhadap hidrogen yang ada di dalam batubara, dan menggunakan katalis yang dapat menjembatani reaksi antara gas hidrogen dan slurry (batubara dan pelarut).
Negara yang telah mengembangkan teknologi Direct Liquefaction Process adalah Jepang, Amerka Serikat dan Jerman. Bagi Indonesia, teknik konversi likuifaksi batubara secara langsung (Direct Liquefaction Process) dinilai lebih menguntungkan untuk saat ini. Selain prosesnya yang lebih sederhana, likuifaksi relatif lebih murah dan lebih bersih dibanding teknik gasifikasi. Teknik ini juga cocok untuk batubara peringkat rendah (lignit), yang banyak terdapat di  Indonesia.
Banyak negara mengembangkan teknologi Likuifaksi Batubara. Di Amerika Serikat berkembang berbagai proyek pengembangan seperti pada gambar 2. Dan Jepang, sebagai salah satu negara pengembang teknologi Likuifaksi Batubara terkenal dengan salah satu proyeknya yaitu NEDOL (lembaga kajian teknologi Jepang) memiliki 2 metode likuifaksi batubara yaitu Bituminous Coal Liquefaction dan Brown Coal Liquefaction.
2.5              Bituminous Coal Liquefaction
2.5.1        Dalam proses Bituminous Coal Liquefaction, Proyek NEDOL berhasil menggabungkan 3 proses, yaitu: Solvent Extraction Process, Direct Hydrogenation Process, dan Solvolysis Process.
Spesifikasi proses NEDOL adalah sebagai berikut:
§  Tidak memerlukan batubara dengan spesifikasi tertentu. Batubara yang digunakan bisa dari low grade sub-bituminous sampai low grade bituminous.
§  Yield Ratio bisa mencapai 54% berat, lebih besar dari medium atau light oil.
§  Temperatur standar reaksi adalah 450°C dan Tekanan standar 170 kg/cm2G.
§  Membutuhkan katalis yang sangat aktif namun tidak mahal.
§  Sebagai pemisah antara fasa cair-gas, digunakan sistem distilasi pengurang tekanan.
§  Digunakan pelarut terhidrogenasi yang dapat digunakan kembali untuk mengawasi kualitas pelarut agar dapat meningkatkan Yield Ratio dari batubara cair dan mencegah fenomena “cooking” pada tungku pemanas.

Proses NEDOL
§  Slurry dibuat dengan mencampurkan 1 bagian batubara dengan 1.5 bagian pelarut,lalu ditambahkan 3% katalis yang mengandung besi (ferrous catalyst)
§  Slurry dipanaskan sampai suhunya mencapai 400°C dalam preheating furnace.
§  Reaksi likuifaksi terjadi dalam kolom reaktor berjenis suspension bed foaming pada kondisi standar (Temperatur 450°C, Tekanan 170 kg/cm2G)
§  Batubara dikonversi menjadi bentuk cair oleh reaksi antara hidrogen dan pelarut.
§  Setelah melewati pemisah fase gas-cair, kolom distilasi bertekanan normal, dan kolom distilasi isap, batubara cair dipisahkan menjadi naphta, medium oil, heavy oil, dan residu.
§  Distilat medium oil dan heavy oil dipindahkan ke kolom reaksi berjenis fixed bed yang berisi katalis Ni-Mo. Pada kolom reaksi ini, distilat dikonversikan menjadi distilat ringan pada Temperatur 320°C dan Tekanan 100 kg/cm2G, dan digunakan kembali dalam reaksi sebagai pelarut (solvent)
Gambar 2: Diagram alir proses Bituminous Coal Liquefaction

2.6  Brown Coal Liquefaction
Proses pada Brown Coal Liquefaction, secara umum terdiri atas 3 proses, yaitu: Coal Pretreatment Process, Slurry Preheating Process, dan Primary hydrogenation process.
a)      Pretreatment Process merupakan proses peremukan raw brown coal, pengeringan, dan pembuatan Slurry. Slurry dibuat dengan mencampurkan 1 bagian batubara brown coal dengan 2.5 bagian pelarut, lalu ditambahkan  katalis yang mengandung besi (iron catalyst). Lalu Slurry diproses ke preheating process.
b)      Primary hydrogenation process dilakukan dengan mengalirkan gas hidrogen pada Temperatur 430-450°C dan tekanan 150-200 kg/cm2G agar dapat terjadi proses likuifaksi.
c)      Produk yang dihasilkan dikirim ke kolom distilasi dan didistilasi menjadi naphta, light oil dan medium oil.
d)     Kolom distilasi bawah yang mengandung padatan dialirkan menuju kolom pemisah padatan-cairan pada proses pengeringan pelarut. Distilat cair kemudian dibawa ke proses Secondary hydrogenation dan padatan dibuang.
e)       Reaktor jenis fixed bed yang diisi katalis Ni-Mo agar proses hidrogenasi dapat terjadi pada temperatur 300-400°C dan tekanan 150-200 kg/cm2G.
f)       Kemudian dilakukan distilasi kembali agar dapat dipisahkan menjadi nephta, light distillate dan medium distillate.
g)      Setelah proses selesai, dihasilkan 3 barrel batubara cair dari 1 ton batubara brown coal kering
Gambar 3. Diagram alir proses Brown Coal Liquefaction

2.7              Manfaat Likuifaksi Batubara
Likuifaksi batubara memiliki sejumlah manfaat:
a)      Batubara terjangkau dan tersedia di seluruh dunia, memungkinkan berbagai negara untuk mengakses cadangan batubara dalam negeri -dan pasar internasional- dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak, serta meningkatkan keamanan energi.
b)      Batubara Cair dapat digunakan untuk transportasi, memasak, pembangkit listrik stasioner, dan di industri kimia.
c)      Batubara yang diturunkan adalah bahan bakar bebas sulfur, rendah partikulat, dan rendah oksida nitrogen.
d)     Bahan bakar cair dari batubara merupakan bahan bakar olahan yang ultra-bersih, dapat mengurangi risiko kesehatan dari polusi udara dalam ruangan

Sisi Lain Batubara Cair
Dalam penggunaannya, batubara cair sebagai bahan bakar alternatif dinilai dapat:
1.      Meningkatkan dampak negatif dari penambangan batubara
Penyebaran skala besar pabrik batubara cair dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan dari penambangan batubara. Penambangan batubara akan memberikan dampak negatif yang berbahaya. Penambangan ini dapat menyebabkan limbah yang beracun dan bersifat asam serta akan mengkontaminasi air tanah. Selain dapat meningkatkan efek berbahaya terhadap lingkungan, peningkatan produksi batubara juga dapat menimbulkan dampak negatif pada orang-orang yang tinggal dan bekerja di sekitar daerah penambangan.
2.      Menimbulkan efek global warming sebesar hampir dua kali lipat per gallon bahan bakar.
Produksi batubara cair membutuhkan batubara dan energi dalam jumlah yang besar. Proses ini juga dinilai tidak efisien. Faktanya, 1 ton batubara hanya dapat dikonversi menjadi 2-3 barel bensin. Proses konversi yang tidak efisien, sifat batubara yang kotor, dan kebutuhan energi dalam jumlah yang besar tersebut menyebabkan batubara cair menghasilkan hampir dua kali lipat emisi penyebab global warming dibandingkan dengan bensin biasa. Walaupun karbon yang terlepas selama produksi ditangkap dan disimpan, batubara cair tetap akan melepaskan 4 hingga 8 persen polusi global warming lebih banyak dibandingkan dengan bensin biasa.



























BAB III
KESIMPULAN
3.1       Kesimpulan

Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang menghasilkan adisi hidrogen (H2). Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atomhidrogen ke sebuah molekul. Katalisator untuk proses hidrogenasi adalah platina, palladium dan nikel, dimana platina dan palladium  membentuk katalis yang sangat aktif, yang dapat mengkatalis pada suhu dan tekanan rendah.

Likuifaksi Batubara adalah suatu teknologi proses yang mengubah batubara dan menghasilkan bahan bakar cair sintetis. Batubara yang berupa padatan diubah menjadi bentuk cair dengan cara mereaksikannya dengan hidrogen pada temperatur dan tekanan tinggi.
Proses likuifaksi batubara secara umum diklasifikasikan menjadi Indirect Liquefaction Processdan dan Direct Liquefaction Process.
2 metode likuifaksi batubara yaitu Bituminous Coal Liquefaction dan Brown Coal Liquefaction. Dalam proses Bituminous Coal Liquefaction, Proyek NEDOL berhasil menggabungkan 3 proses, yaitu: Solvent Extraction Process, Direct Hydrogenation Process, dan Solvolysis Process.Proses pada Brown Coal Liquefaction, secara umum terdiri atas 3 proses, yaitu: Coal Pretreatment Process, Slurry Preheating Process, Primary hydrogenation process dan Secondary hydrogenation process.

3.2       Saran 
      dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang membangun akan kami terima untuk menjadikan makalah ini lebih baik nantinya.





DAFTAR PUSTAKA


Anonim1. 2009.Hidrogenation.
Diakses tanggal 3 Oktober 2014.

Anonim2. 2013. Apa itu HIDROGENASI ?

Diakses tanggal 3 Oktober 2014.

Anonim3. 2012.Prosespengolahan Batubara.

http://alfian’sblog.blogspot.com.

Diakses tanggal 3 Oktober 2014.

Anonim3. 2012.the-coal-to-liquid-debate.

      Diakses tanggal 3 Oktober 2014

 

Anonim3. 2014.batubara-cair-solusi-ketahanan-energi-yang-bersahabat

Diakses tanggal 3 Oktober 2014