PROSES INDUSTRI KIMIA
HIDROGENASI
KELOMPOK
5
OLEH:
GUSTI INDAH HAYATI H1D112015
WAHYUDDIN H1D112042
FAUZAH FYANIDAH H1D112201
ISNAINI RITAMI H1D112204
PROGRAM
STUDI S-1 TEKNIK KIMIA
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2014
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah kami
dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini yang berjudul Hidrogenasi. Penyusunan makalah
ini bertujuan untuk menambah kemampuan dan pengetahuan mahasiswa dalam hal pemahaman mengenai hidrogenasi.
Kami mengucapkan
terima kasih kepada pihak yang telah ikut membantu dalam menyelesaikan makalah
ini. Makalah ini tidak luput dari kesalahan, oleh karena itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah yang kami sajikan
dapat bermanfaat bagi kita semua.
Banjarbaru, Oktober 2014
Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Hidrogenasi merupakan reaksi hydrogen dengan senyawa organik, Reaksi ini terjadi
dengan penambahan hydrogen secara langsung pada ikatan rangkap dari molekul
yang tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh. Proses
hidrogenasi merupakan salah satu proses yang penting dan
banyak digunakan dalam pembuatan bermacam-macam senyawa organik. Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hydrogen kesebuah molekul. Reaksi dilakukan pada suhu dan tekanan yang berbeda tergantung pada substrat dan aktivitas katalis.
banyak digunakan dalam pembuatan bermacam-macam senyawa organik. Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hydrogen kesebuah molekul. Reaksi dilakukan pada suhu dan tekanan yang berbeda tergantung pada substrat dan aktivitas katalis.
Proses hidrogenasi
merupakan salah satu proses yang penting dan banyak digunakan dalam pembuatan
bermacam-macan senyawa organik. Industri yang menggunakan proses hidrogenasi
antara lain adalah industri sorbitol
methanol, margarine, ammonia dan lain-lainnya Kebanyakan hidrogenasi
menggunakan gas hidrogen (H2), namun ada pula beberapa yang
menggunakan sumber hidrogen alternatif, proses ini disebut hidrogenasi transfer.
Dunia memiliki cadangan minyak yang dikenal cukup untuk hanya
41 tahun, tapi memiliki cadangan batubara hingga 155 tahun. Oleh karena
itu dibutuhkan alternatif untuk menggantikan energi minyak bumi. Saat ini
telah dikembangkan teknologi pencairan batubara sebagai bahan bakar yang
hampir setara dengan output minyak bumi. Pengembangan teknologi untuk
menghasilkan energi baru juga berhasil mengembangkan suatu teknologi
pencairan batubara bituminous dengan menggunakan tiga proses, yaitu solvolysis system, solvent extraction system, dan direct
hydrogenation to liquefy bituminous coal. Ketiga proses tersebut
terintegrasi dalam proses NEDOL (NEDO Liquefaction),
suatu proses pencairan batubara yang dikembangkan oleh NEDO (lembaga
kajian teknologi Jepang), dengan tujuan untuk mendapatkan hasil pencairan
yang lebih tinggi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah istilah
yang merujuk pada reaksi
kimia yang menghasilkan adisi hidrogen (H2). Proses ini umumnya terdiri
dari adisi sepasang atom hidrogen
ke sebuah molekul. Hidrogenasi merupakan reaksi hidrogen dengan senyawa
organik. Reaksi ini terjadi dengan penambahan hidrogen secara langsung pada
ikatan rangkap dari molekul yang tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk
yang jenuh. Penggunaan katalis diperlukan agar reaksi
yang berjalan efisien dan dapat digunakan, hidrogenasi non-katalitik hanya
berjalan dengan kondisi temperatur yang sangat tinggi. Hidrogen beradisi ke ikatan rankap dua dan tiga hidrokarbon. Oleh karena
pentingnya hidrogen, banyak reaksi-reaksi terkait yang telah dikembangkan untuk
kegunaannya. Kebanyakan hidrogenasi menggunakan gas hidrogen (H2),
namun ada pula beberapa yang menggunakan sumber hidrogen alternatif, proses ini
disebut hidrogenasi
transfer. Reaksi balik atau pelepasan hidrogen dari sebuah
molekul disebut dehidrogenasi.
Reaksi di mana ikatan diputuskan ketika hidrogen diadisi dikenal sebagai hidrogenolisis. Hidrogenasi berbeda
dengan protonasi
atau adisi hidrida,
pada hidrogenasi, produk yang dihasilkan mempunyai muatan yang sama dengan
reaktan.Substrat dari hidrogenasi tercantum dalam table berikut :
Tabel
1. Substrat Hidrogenasi
|
Alkena, R2C = CR2
|
Alkana, 2R2 CHCHR’
|
|
Alkuna, RCCR
|
Alkena, cis-RHC = CHR’
|
|
Aldehida, RCHO
|
Alcohol utama, RCH2OH
|
|
Keton, R2CO
|
Sekunder alcohol, R2CHOH
|
|
Ester, RCO2R’
|
Dua alcohol, RCH2OH, R’OH
|
|
Imina, RR’CNR”
|
Amina, RR’CHNHR”
|
|
Amida. RC (O) NR2
|
Amina, RCH2NR2
|
|
Nitril, RCN
|
Imina, RHCNH
|
|
Nitro, RNO2
|
Amina, RNH2
|
2.1.1
Pembuatan
Hidrogen
Hidrogen yang dipergunakan pada proses
hidrogenasi dibuat dengan proses elektrolisa dan proses steam iron. Proses
elektrolisa yang dilakukan sangat sederhana, yaitu dengan larutan natrium
hidroksida encer. Cara ini dapat menghasilkan hidrogen yang murni. Cara steam
iron adalah proses pembuatan hidrogen yang mengikutsertakan proses reduksi dan
oksidasi dari besi panas dalam dapur api yang dipanaskan pada suhu
1500°F-1700°F (815,5°C-926,5°C). Uap yang dipergunakan dialirkan secara
berlebihan melalui besi panas. Oksigen pada uap akan bercampur dengan besi dan
akan membebaskan hidrogen. Pada tahap akhir dari siklus uap, gas biru yang
terbentuk dari uap akan menghembus melalui alat pemanas dan terus menembus
melalui besi panas untuk mereduksi logam besi yang telah teroksidasi. Kelebihan
dari reduksi gas dialirkan melalui besi yang telah teroksidasi. Kelebihan dari
reduksi gas dialirkan melalui besi yang panas dan dibakar dalam checkerwork.
Pengurangan gas dilakukan dengan jalan mengalirkan gas tersebut melalui bagian
atas dapur api, sedangkan uap untuk membuat hidrogen dimasukkan melalui bagian
bawah dapur api.
Hidrogen yang dihasilkan pada proses steam
iron kurang murni untuk dipakai pada proses hidrogenasi minyak atau lemak
makan, karena mengandung komponen-kompenen sulfur, karbon monoksida. Pemisahan
karbon monoksida dapat dilakukan dengan mereaksikan hidrogen dengan uap pada
suhu tinggi. Sedangkan hidrogen sulfida dapat dipisahkan dengan jalan
melewatkan gas melalui ketel pemurnian yang diisi dengan besi sulfida (FeS).
2.1.2
Katalisator
dalam Proses Hidrogenasi
Umumnya, tidak ada reaksi antara H2
dengan senyawa organik yang terjadi di bawah 480°C terjadi antara H2
tanpa adanya katalis logam. Katalisator untuk proses hidrogenasi adalah
platina, palladium dan nikel, dimana platina dan palladium membentuk
katalis yang sangat aktif, yang dapat mengkatalis pada suhu dan tekanan rendah.
Tetapi berdasarkan pertimbangan ekonomis, hanya nikel yang umum digunakan
sebagai katalisator hidrogenasi walaupun nikel dapat mengkatalis pada suhu yang
lebih tinggi dari platina dan palladium.
Katalis hidrogenasi digolongkan menjadi dua,
yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen larut dalam
pelarut yang berisi substrat tak jenuh. Katalis heterogen adalah berbentuk
padat yang tersuspensi di pelarut dengan substrat atau dengan gas substrat.
Nikel mungkin juga mengandung sejumlah kecil Al dan Cu yang berfungsi sebagai
promoter dalam proses hidrogenasi minyak.
2.1.3
Macam-macam Hidrogenasi
a.
Hidrogenasi transfer
Proses
hidrogenasiumumnyamemanfaatkan gas hidrogen, namunadajuga yang
menggunakansumber lain yang memiliki atom hidrogen di dalamnya.
Namuntujuannyasama, yaitu :menambahkan atom hidrogendalamsuatusenyawa.
b. Hidrogenasi
Minyak
Proses
hidrogenasi minyak membuat mengerasnya tanaman dan ikan yang diturunkan minyak,
yang memungkinkan mereka untuk menjadi pengganti
efektif untuk lemak hewani.
c.
Hidrogenasi Etena
Etena bereaksi dengan hydrogen pada suhu sekitar 150°C dengan adanya sebuah
katalis nikel (Ni) yang halus. Reaksi ini
menghasilkan etana. Reaksi ini tidak begitu berarti, sebab etena merupakan senyawa
yang jauh lebih bermanfaat dibanding etena yang dihasilkan.
2.2
Pengertian Batubara.
Batubara adalah kekayaan alam yang dikategorikan sebagai energy fossil terbentuk dari proses metamorfosa yang sangat lama.
Struktur kimia batubara samasekali bukan rangkaian kovalen karbon sederhana
melainkan merupakan polikondensat rumit dari gugus aromatik dengan fungsi
heterosiklik. Jumlah polikondensat yang banyak ini saling berikatan sering
disebut dengan “bridge-structure”.
Secara optis batubara sering merupakan bongkahan berporus tinggi dengan kadar
air yang sangat bervariasi.
Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa
batubara merupakan sumber bahan bakar selain minyak bumi dan gas alam yang tak
dapat terbarukan (non renewable
resources). Namun, berbeda dengan minyak bumi dan gas alam, batubara
tersebar merata di seluruh dunia dalam cadangan yang cukup besar. Sehingga
batubara dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar fosil utama oleh beberapa
negara yang miskin sumber daya minyak/gas tetapi memiliki cadangan batubara
yang melimpah seperti China, Amerika Serikat dan Jepang.
Permasalahan utama dalam penggunaan
batubara adalah bahwa batubara merupakan bahan bakar padat, dan membutuhkan
penyalaan awal agar bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi langsung. Selain
itu, batubara juga memiliki masalah lain seperti membutuhkan tempat penyimpanan
(stockpile) khusus setelah ditambang
karena batubara memiliki sifat reaktif jika dibiarkan di tempat terbuka dalam
waktu yang lama, dan akan segera terbakar dengan sendirinya (dikarenakan adanya
volatile matters), belum lagi
permasalahan transportasi yang membutuhkan penanganan khusus.
2.3
Manfaat Batubara
Pemanfaatan
batubara dapat dimanfaatkan sebagai :
a)
Sumber energi langsung, yaitu dengan cara
langsung membakarnya dan mengambil energi panasnya (seperti di PLTU, dan
Industri semen)
b)
Sumber energi tidak langsung, yaitu dengan
cara mengubah batubara ke dalam bentuk/fasa lain seperti:
Ø briket batubara
(proses karbonisasi/pirolisis)
Ø batubara
cair (proses likuifaksi)
Ø gasifikasi
batubara (menghasilkan Synthesis Natural Gas, SNG)
c)
Non energi:
Ø Digunakan
sebagai karbon aktif pada industri kimia
Ø Kokas
metalurgi pada industri pengolahan baja
2.4
Macam- Macam Proses
Konversi Pengolahan Batubara
Proses
konversi pengolahan batubara hingga akhirnya dapat digunakan. Batubara dapat
digunakan sebagai bahan baku industri maupun sebagai bahan bakar melalui
beberapa proses konversi yakni :
1.
Gasifikasi.
Gasifikasimerupakan proses konversi Batubara
menjadi gas yang mudah dibakar. Jika udara digunakan sebagai pembakar, maka
gas nitrogen (N2) akan
memunyai efek mengencerkan sehingga gas yang dihasilkan berkalori rendah.
Untuk menghasilkan gas dengan kalori menengah maka sebagai pembakar digunkan
gas oksigen (O2) murni.
Untuk keperluaan industri ada kecenderungan menggunakan medium oksigen dan uap
air untuk menghasilkan gas dengan kalori menengah. Produk-produk yang
dihasilkan dari proses Gasifikasi dapat
berupa SNG (Subtitude Natural
Gas), Gas Sintesa (CO +
H2), Gas
pereduksi dan Gas berkalori
rendah. Secara sederhana,
gasifikasi adalah proses konversi materi organik (batubara, biomass atau
natural gas) biasanya padat menjadi CO dan H2 (synthesis gases) dengan bantuan uap air dan oksigen pada tekanan atmosphere atau tinggi. Rumus
sederhananya:
Coal + H2O + O2 → H2 + CO
2.
Sintesis Fisher-Tropsch.
sintesis ini merupakan konversi batubara yang
didahului dengan proses Gasifikasi dengan
menggunakan medium oksigen dan uap air. Gas yang dihasilkan terutama berupa
gas CO dan H2, kemudian dimurnikan dan
dilewatkan katalisator media sehingga diperoleh produk cair berupa hidrokarbon bermolekul
tinggi. Fisher Tropsch adalah sintesis CO/H2 menjadi produk hidrokarbon atau disebut
senyawa hidrokarbon sintetik/ sintetik oil. Sintetik oil banyak digunakan
sebagai bahan bakar mesin industri/transportasi atau kebutuhan produk pelumas (lubricating oil).
3.
Pirolisa (Karbonasi).
Pada proses pirolisa atau karbonasi,
batubara dipanaskan dalam keadaan tanpa udara sampai terjadi dekomposisi. Proses Dekomposisi
adalah proses penguraian batubara dengan menggunakan panas tanpa udara,
hasilnya disebut dengan kokas (Briket) dan
menghasilkan cairan serta gas yang dapat dijual sebagai bahan bakar atau media
bahan kimia. Adanya proses dekomposisi tersebut kandungan karbonnya akan
meningkat dan sebaliknya kandungan gas terbangnya akan berkurang. Pada
temperatur tinggi, hasilnya berupa residu padat (Kokas) dan mengandung gas,
sedangkan pada temperatur rendah, hasilnya berwujud cairan yang banyak
mengandung unsur Hidrogen (Tar).
Tar dapat diapaki secara langsung dan dapat diubah menjadi minyak mentah
sintetik melalui proses HydroTreatment.
4.
Hidrogenasi.
Hidrogenasi adalah proses reaksi
batubara dengan gas hydrogen bertekanan tinggi. Reaksi ini diatur sedemikian
rupa (kondisi reaksi, katalisator dan kriteria bahan baku) agar dihasilkan
senyawa hidrokarbon sesuai yang diinginkan, dengan spesifikasi mendekati minyak
mentah. Sejalan perkembangannya, hidrogenasi batubara menjadi proses alternatif
untuk mengolah batubara menjadi bahan bakar cair pengganti produk minyak bumi,
proses ini dikenal dengan nama Bergius
proses, disebut juga proses pencairan batubara (coal liquefaction).
5.
Ekstraksi (Solvent Extraction).
Merupakan metode konversi batubara
yang melarutkan sebagian atau seluruhnya batubara sehigga kemurnian batubara
menjadi tinggi. pelarut yang digunakan dapat berupa hidrogen atau bahan organik
yang berasal dari batubara tersebut. Jika tidak digunakan katalisator maka hasilnya berupa
bahan bakar padat atau bahan bakar cair berat. Jika digunakan katalisator, maka hasilnya
berupa Liquid Fuel Oil, Syntetic
Crude Oil atau Minyak Nafta.
2.4.1
Proses Pengolahan
Batubara Cair
Likuifaksi Batubara adalah suatu
teknologi proses yang mengubah batubara dan menghasilkan bahan bakar cair
sintetis. Batubara yang berupa padatan diubah menjadi bentuk cair dengan cara
mereaksikannya dengan hidrogen pada temperatur dan tekanan tinggi.
Proses
likuifaksi batubara secara umum diklasifikasikan menjadi Indirect Liquefaction Processdan dan Direct Liquefaction Process.
2.8.1. Indirect Liquefaction
Process/ Indirect Coal Liquefaction (ICL)
Prinsipnya
secara sederhana yaitu mengubah batubara ke dalam bentuk gas terlebih dahulu
untuk kemudian membentuk Syngas (campuran gas CO dan H2). Syngas kemudian
dikondensasikan oleh katalis (proses Fischer-Tropsch) untuk menghasilkan produk
ultra bersih yang memiliki kualitas tinggi.
Gambar 1. Dua konfigurasi
proses dasar untuk produksi bahan bakar cair dengan Indirect Liquefaction Process
2.8.2.
Direct Liquefaction
Process/ direct coal liquefaction (DCL)
Proses
ini dilakukan dengan cara menghaluskan ukuran butir batubara, kemudian Slurry dibuat dengan cara mencampur
batubara ini dengan pelarut. Slurry
dimasukkan ke dalam reaktor bertekanan tinggi bersama-sama dengan hidrogen
dengan menggunakan pompa. Slurry
kemudian diberi tekanan 100-300 atm di dalam sebuah reaktor kemudian dipanaskan
hingga suhu mencapai 400-480°C.
Secara
kimiawi proses akan mengubah bentuk hidrokarbon batubara dari kompleks menjadi
rantai panjang seperti pada minyak. Atau dengan kata lain, batubara terkonversi
menjadi liquid melalui pemutusan ikatan C-C dan C-heteroatom secara termolitik
atau hidrolitik, sehingga melepaskan molekul-molekul CO2, H2S,
NH3, dan H2O. Untuk itu rantai atau cincin aromatik
hidrokarbonnya harus dipotong dengan cara dekomposisi panas pada temperatur
tinggi (thermal decomposition).
Setelah dipotong, masing-masing potongan pada rantai hidrokarbon tadi akan
menjadi bebas dan sangat aktif (free-radical).
Supaya radikal bebas itu tidak bergabung dengan radikal bebas lainnya (terjadi
reaksi repolimerisasi) membentuk material dengan berat molekul tinggi dan insoluble, perlu adanya pengikat atau
stabilisator, biasanya berupa gas hidrogen. Hidrogen bisa didapat melalui tiga
cara yaitu: transfer hidrogen dari pelarut, reaksi dengan fresh hidrogen, rearrangement terhadap hidrogen yang ada
di dalam batubara, dan menggunakan katalis yang dapat menjembatani reaksi
antara gas hidrogen dan slurry (batubara dan pelarut).
Negara
yang telah mengembangkan teknologi Direct
Liquefaction Process adalah Jepang, Amerka Serikat dan Jerman. Bagi
Indonesia, teknik konversi likuifaksi batubara secara langsung (Direct Liquefaction Process) dinilai
lebih menguntungkan untuk saat ini. Selain prosesnya yang lebih sederhana,
likuifaksi relatif lebih murah dan lebih bersih dibanding teknik gasifikasi.
Teknik ini juga cocok untuk batubara peringkat rendah (lignit), yang banyak
terdapat di Indonesia.
Banyak
negara mengembangkan teknologi Likuifaksi Batubara. Di Amerika Serikat
berkembang berbagai proyek pengembangan seperti pada gambar 2. Dan Jepang,
sebagai salah satu negara pengembang teknologi Likuifaksi Batubara terkenal
dengan salah satu proyeknya yaitu NEDOL (lembaga
kajian teknologi Jepang) memiliki 2 metode likuifaksi batubara
yaitu Bituminous Coal Liquefaction
dan Brown Coal Liquefaction.
2.5
Bituminous Coal Liquefaction
2.5.1
Dalam
proses Bituminous Coal Liquefaction,
Proyek NEDOL berhasil menggabungkan 3 proses, yaitu: Solvent Extraction Process, Direct Hydrogenation Process, dan Solvolysis Process.
Spesifikasi proses NEDOL adalah
sebagai berikut:
§ Tidak memerlukan batubara dengan spesifikasi tertentu. Batubara
yang digunakan bisa dari low grade sub-bituminous sampai low grade bituminous.
§ Yield Ratio bisa mencapai 54% berat, lebih besar dari medium atau
light oil.
§ Temperatur standar reaksi adalah 450°C dan Tekanan standar 170
kg/cm2G.
§ Membutuhkan katalis yang sangat aktif namun tidak mahal.
§ Sebagai pemisah antara fasa cair-gas, digunakan sistem distilasi
pengurang tekanan.
§ Digunakan pelarut terhidrogenasi yang dapat digunakan kembali
untuk mengawasi kualitas pelarut agar dapat meningkatkan Yield Ratio dari
batubara cair dan mencegah fenomena “cooking”
pada tungku pemanas.
Proses NEDOL
Proses NEDOL
§ Slurry dibuat dengan mencampurkan 1 bagian batubara dengan 1.5
bagian pelarut,lalu ditambahkan 3% katalis yang mengandung besi (ferrous catalyst)
§ Slurry dipanaskan sampai suhunya mencapai 400°C dalam preheating furnace.
§ Reaksi likuifaksi terjadi dalam kolom reaktor berjenis suspension bed foaming pada kondisi
standar (Temperatur 450°C, Tekanan 170 kg/cm2G)
§ Batubara dikonversi menjadi bentuk cair oleh reaksi antara
hidrogen dan pelarut.
§ Setelah melewati pemisah fase gas-cair, kolom distilasi bertekanan
normal, dan kolom distilasi isap, batubara cair dipisahkan menjadi naphta, medium oil, heavy oil, dan residu.
§ Distilat
medium oil dan heavy oil dipindahkan ke kolom reaksi berjenis fixed bed yang berisi katalis Ni-Mo. Pada kolom reaksi ini,
distilat dikonversikan menjadi distilat ringan pada Temperatur 320°C dan
Tekanan 100 kg/cm2G, dan digunakan kembali dalam reaksi sebagai
pelarut (solvent)
Gambar 2: Diagram alir proses Bituminous Coal Liquefaction
2.6
Brown
Coal Liquefaction
Proses
pada Brown Coal Liquefaction, secara
umum terdiri atas 3 proses, yaitu: Coal
Pretreatment Process, Slurry Preheating Process, dan Primary hydrogenation process.
a) Pretreatment
Process merupakan proses
peremukan raw brown coal, pengeringan, dan pembuatan Slurry. Slurry dibuat
dengan mencampurkan 1 bagian batubara brown coal dengan 2.5 bagian pelarut,
lalu ditambahkan katalis yang mengandung besi (iron catalyst). Lalu
Slurry diproses ke preheating process.
b) Primary
hydrogenation process
dilakukan dengan mengalirkan gas hidrogen pada Temperatur 430-450°C dan tekanan
150-200 kg/cm2G agar dapat terjadi proses likuifaksi.
c) Produk yang dihasilkan dikirim ke kolom distilasi dan didistilasi
menjadi naphta, light oil dan medium oil.
d) Kolom distilasi bawah yang mengandung padatan dialirkan menuju
kolom pemisah padatan-cairan pada proses pengeringan pelarut. Distilat cair
kemudian dibawa ke proses Secondary
hydrogenation dan padatan dibuang.
e) Reaktor jenis fixed bed
yang diisi katalis Ni-Mo agar proses hidrogenasi dapat terjadi pada temperatur
300-400°C dan tekanan 150-200 kg/cm2G.
f) Kemudian dilakukan distilasi kembali agar dapat dipisahkan menjadi
nephta, light distillate dan medium distillate.
g) Setelah proses selesai, dihasilkan 3 barrel batubara cair dari 1
ton batubara brown coal kering
2.7
Manfaat Likuifaksi Batubara
Likuifaksi batubara memiliki sejumlah
manfaat:
a) Batubara terjangkau dan tersedia di seluruh dunia, memungkinkan
berbagai negara untuk mengakses cadangan batubara dalam negeri -dan pasar
internasional- dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak, serta
meningkatkan keamanan energi.
b) Batubara Cair dapat digunakan untuk transportasi, memasak,
pembangkit listrik stasioner, dan di industri kimia.
c) Batubara yang diturunkan adalah bahan bakar bebas sulfur, rendah
partikulat, dan rendah oksida nitrogen.
d) Bahan bakar cair dari batubara merupakan bahan bakar olahan yang ultra-bersih,
dapat mengurangi risiko kesehatan dari polusi udara dalam ruangan
Sisi Lain Batubara Cair
Sisi Lain Batubara Cair
Dalam
penggunaannya, batubara cair sebagai bahan bakar alternatif dinilai dapat:
1. Meningkatkan dampak negatif dari penambangan batubara
Penyebaran skala besar pabrik
batubara cair dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan dari penambangan
batubara. Penambangan batubara akan memberikan dampak negatif yang berbahaya.
Penambangan ini dapat menyebabkan limbah yang beracun dan bersifat asam serta
akan mengkontaminasi air tanah. Selain dapat meningkatkan efek berbahaya
terhadap lingkungan, peningkatan produksi batubara juga dapat menimbulkan
dampak negatif pada orang-orang yang tinggal dan bekerja di sekitar daerah
penambangan.
2. Menimbulkan efek global
warming sebesar hampir dua kali lipat per gallon bahan bakar.
Produksi batubara cair membutuhkan
batubara dan energi dalam jumlah yang besar. Proses ini juga dinilai tidak
efisien. Faktanya, 1 ton batubara hanya dapat dikonversi menjadi 2-3 barel
bensin. Proses konversi yang tidak efisien, sifat batubara yang kotor, dan
kebutuhan energi dalam jumlah yang besar tersebut menyebabkan batubara cair
menghasilkan hampir dua kali lipat emisi penyebab global warming dibandingkan
dengan bensin biasa. Walaupun karbon yang terlepas selama produksi ditangkap
dan disimpan, batubara cair tetap akan melepaskan 4 hingga 8 persen polusi
global warming lebih banyak dibandingkan dengan bensin biasa.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang menghasilkan adisi hidrogen (H2). Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atomhidrogen ke sebuah molekul. Katalisator untuk proses hidrogenasi adalah platina,
palladium dan nikel, dimana platina dan palladium membentuk katalis yang
sangat aktif, yang dapat mengkatalis pada suhu dan tekanan rendah.
Likuifaksi Batubara adalah suatu
teknologi proses yang mengubah batubara dan menghasilkan bahan bakar cair
sintetis. Batubara yang berupa padatan diubah menjadi bentuk cair dengan cara
mereaksikannya dengan hidrogen pada temperatur dan tekanan tinggi.
Proses likuifaksi batubara secara umum diklasifikasikan menjadi Indirect Liquefaction Processdan dan Direct Liquefaction Process.
2
metode likuifaksi batubara yaitu Bituminous
Coal Liquefaction dan Brown Coal
Liquefaction. Dalam proses Bituminous Coal Liquefaction, Proyek
NEDOL berhasil menggabungkan 3 proses, yaitu: Solvent Extraction Process, Direct Hydrogenation Process, dan Solvolysis Process.Proses pada Brown Coal Liquefaction, secara umum
terdiri atas 3 proses, yaitu: Coal
Pretreatment Process, Slurry Preheating Process, Primary hydrogenation process
dan Secondary hydrogenation process.
3.2 Saran
dalam
penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik
yang membangun akan kami terima untuk menjadikan makalah ini lebih baik
nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim1.
2009.Hidrogenation.
Diakses tanggal 3 Oktober 2014.
Anonim2.
2013. Apa itu HIDROGENASI ?
Diakses tanggal 3 Oktober 2014.
Anonim3. 2012.Prosespengolahan Batubara.
http://alfian’sblog.blogspot.com.
Diakses
tanggal 3 Oktober 2014.
Anonim3. 2012.the-coal-to-liquid-debate.
Diakses tanggal 3 Oktober 2014
Anonim3. 2014.batubara-cair-solusi-ketahanan-energi-yang-bersahabat
http://ugmmagatrika.wordpress.com/2014/02/28/batubara-cair-solusi-ketahanan-energi-yang-bersahabat/.
Diakses tanggal 3
Oktober 2014